Strategi dan taktik Islami dalam kehidupan sehari-hari di bidang tauhid, ibadah, akhlak, muamalah, dan siyasah.

Berfokus pada manajemen (ruang lingkup, waktu, finansial, dan mutu), dan penampilan terbaik alami dari karakter ruhani dan jasmani sesuai ajaran Islam.

~ Hamba Allah ~

Al Hambra, Granada, Andalusia, Spanyol - 1001 Inventions: Muslim heritage in our world. Foundation for Science, Technology, and Civilization

STI4 Antar Sistem Muslimin(mat)
2. Berbangsa-bangsa dan Bersuku-suku: Menjadi Bagian dari Taqwa Alam Semesta



"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (Q.S. Ali ‘Imran / Keluarga Imran / 3: 103)


Dasar-dasar Dalil Naqly:


1. Berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal dan bertukar ketaqwaan

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu." (QS. Al Hujuraat: 13)


Manusia diciptakan berpasangan agar manusia bisa berketurunan dan akhirnya menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku seperti saat ini. Perbedaan yang muncul dari setiap bangsa dan suku inilah yang menjadi alasan utama manusia untuk saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengenal, maka kita semua dapat saling mengisi dan menyayangi semua makhluk Tuhan di muka bumi ini. Saling menyuruh pada kebaikan dan melarang pada kemungkaran. Saling lulus dalam ujian “membantu dan saling tolong-menolong sesame manusia.” Karena kebenaran dapat datang melalui apa saja dan siapa saja, tidak mengenal perbedaan gender, bangsa, dan suku. Hingga terwujud ketaqwaan pada Allah di alam semesta ini melalui manusia-manusia ciptaan-Nya.

Jika semua manusia di muka bumi ini bertaqwa pada Allah, maka akan datang janji Allah: umat terbaik manusia dari agama rahmatan lil aalamiin, sehingga kita semua yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku akan menjadi bagian dari ketaqwaan alam semesta. Insya Allah wa Subhanallah.


2. Berlainan bahasa dan warna kulit agar dipahami sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar Ruum: 22)


Penciptaan langit dan bumi, dan manusia yang berlainan bahasa dan warna kulit dimaksudkan Allah agar kita mengetahui tanda-tanda kekuasaan-Nya. Yang dengannya kita akan semakin meningkatkan ketaqwaan kita, giat beribadah, dan selalu bersyukur atas pengetahuan kita mengenai keanekaragaman tersebut yang telah Allah berikan (baik melalui pemahaman panca indera, akal, dan hati).

Allah telah memberikan pemahaman akal dari aktifitas membaca menggunakan indera mata (misalnya sehingga catatan ini dapat kita baca dan pahami). Dan jika aqidah (keimanan pada Allah SWT) di hati selalu dijaga oleh para malaikat dan sahabat-sahabat muqarrabiin, walaupun berbeda bangsa dan suku, bahasa dan warna kulit, maka hati kita dapat terbantu memahami petunjuk-petunjuk-Nya baik yang tersirat atau tersurat pada keanekaragaman yang ada tersebut.

Keanekaragaman umat manusia akan membawa rahmat jika keanekaragaman tersebut menjadi pengetahuan dan inspirasi untuk saling mengenal, saling tolong-menolong antar sesama, saling mengajak pada kebaikan dan melarang pada keburukan, saling menerima perbedaan pendapat lalu perbedaan pendapat itu disatukan dengan petunjuk-petunjuk dari Allah dalam kitab-Nya atau melalui sunnah Rasulullah.





Dari perbedaan dan keanekaragaman tersebut juga kita bisa mengenal arti sebuah pertemanan dan persahabatan. Saling menerima kekurangan dan memberi kelebihan masing-masing pada masing-masing yang lain. Betapa indahnya saat kekurangan kita dapat diterima dan diperbaiki oleh ilham malaikat muqarrabiin dan ikhwan dan akhwat yang saling menyayangi dan mencintai karena Allah, serta kelebihan kita dapat bermanfaat bagi sesama kita yang kekurangan (membutuhkan). Allahu Akbar!

Maka, penggabungan opini-opini terbaik dari masing-masing perbedaan tersebut akan menghasilkan solusi yang adil dan terbaik bagi setiap perbedaan yang ada.

Akhirnya, dengan adanya keanekaragaman dan perbedaan tersebut maka kita sebagai manusia akan semakin menyadari betapa besar kekuasaan-Nya dan betapa kecil diri-diri kita di hadapan-Nya. Hanya Dia yang mampu menciptakan apapun di muka bumi ini tanpa ada satupun yang sama.

Jika anda pernah belajar matematika, maka dapatkah anda menghitung ada berapa kemungkinan kombinasi variasi penciptaan yang Dia ciptakan? Tidak terhingga jumlahnya. Subhanallah.

Maka, adanya perbedaan setiap dari kita, tidak memandang gender, bangsa dan suku, bahasa dan warna kulit, merupakan rahmat bagi alam semesta. Bukan untuk saling dicemooh dan dihina. Bukan untuk saling merendahkan dan menjadi bibit kesombongan. Bukan untuk dijadikan alasan melahirkan perselisihan dan akhirnya pecah peperangan baik mental dan fisik.

Akhirnya, semua potensi perselisihan sekecil apapun hendaknya dihindari dengan sekuat tenaga jika membuat tujuan dakwah kita tidak tercapai. Karena hasil dari perselisihan biasanya adalah berkurangnya atau bahkan hilangnya kekuatan jamaah umat Isalm yang kuat dan kokoh. Sehingga mudah diceraiberaikan oleh setan dan pengikutnya.

"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan (berselisih), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu." (QS. Al Anfal: 46)

"Barangsiapa meninggalkan perdebatan dan dia salah, maka Allah akan membangun (untuknya) rumah di surga. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan dan dia benar, maka Allah akan membangun (untuknya) rumah di surga yang paling tinggi." (The Most Tusted Leader, Rasulullah SAW)


3. Setan membuat trik perselisihan dengan rasa dengki di antara manusia

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menyebabkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu merupakan musuh yang nyata bagi manusia." (Q.S. Al Israa': 53)

*Setan artinya adalah lawan atau musuh. Yakni musuh manusia yang beriman kepada Allah SWT.

Penyebab terbakarnya api perselisihan karena berbagai macam perbedaan adalah karena api perselisihan tersebut disulut oleh setan. Setan hendak mengaburkan pandangan manusia dalam menafsirkan kebenaran. Setan selalu berusaha menghalang-halangi manusia dari kebenaran. Maka, jika manusia tidak dapat mengenali kebenaran, manusia akan saling berselisih dengan hanya membenarkan pendapatnya tanpa didasari petunjuk Allah dalam Al Qur'an dan sunnah Rasulullah. Manusia akan mudah terombang-ambing oleh jalan fikirannya sendiri yang tidak stabil tanpa pegangan dan pedoman yang kuat dan kokoh. Mudah diadudomba setan melalui trik perselisihan: dengki dan iri hati. Dan akhirnya manusia tersebut tidak akan dapat menemukan kebenaran yang hakiki dalam hidupnya. Naudzubillahi min dzalik.

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (QS. Al Baqarah: 213)


4. Cara menyelesaikan perselisihan: musyawarah dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Q.S. Ali Imraan: 159)


Nabi Muhammad selalu bermusyawarah dengan mereka dengan segala hal. Oleh karena itu kaum muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. Mereka tetap berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakkal sepenuh kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum muslimin selain Allah.

"Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Q.S. Shaad: 20)


*Hikmah: perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

*Kebijaksanaan / wisdom: a deep understanding and realizing of people, things, events or situations, resulting in the ability to choose or act to consistently produce the optimum results with a minimum of time and energy.

Wisdom is the ability to optimally (effectively and efficiently) apply perceptions and knowledge and so produce the desired results. Wisdom is comprehension of what is true or right coupled with optimum judgment as to action. Synonyms include: sagacity, discernment, or insight.

Wisdom often requires control of one's emotional reactions (the "passions") so that one's principles, reason and knowledge prevail to determine one's actions.


5. Berlalu adil pada semua kaum manusia tanpa terkecuali


"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al Maidah: 8)


Dari ayat ini sudah sangat jelas, agar setiap bangsa dan suku dapat menjadi bagian dari taqwa alam semesta, maka setiap manusianya harus berlaku adil setiap saat pada sesamanya tanpa pandang bulu. Bertaqwalah dengan berlaku adil.


T A K T I K: 
Berbangsa-bangsa dan Bersuku-suku: Menjadi Bagian dari Taqwa Alam Semesta


Taktik I: Cegah perselisihan


I.1. Cari ilmu dan bukti yang relevan sebelum berprasangka apa-apa pada sesama manusia.
I.2. Hancurkan prasangka dan iblis dengan ilmu dan bukti tak terbantahkan.
I.3. Jauhi sifat dengki (karena sifat dengki adalah bahan bakar api perselisihan).
I.4. Jangan menjadi provokator / pengadu domba kaki tangan setan.
I.5. Selalu berlaku adil pada sesama manusia tanpa terkecuali.


Taktik II: Komunikasi: Semua hal yang diperlukan kepada semua pihak yang berkaitan tanpa kecuali


II.1. Berkomunikasi dengan hati yang baligh

Hati yang baligh adalah hati yang telah sampai pada kebenaran yang hakiki dengan landasan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah dan telah mendapat kewajiban untuk menyampaikan kebenaran tersebut. Hati yang baligh seharusnya dimiliki setiap orang yang sudah berakil baligh / dewasa jika waktu mereka diisi dengan tarbiyah nafsi (self education) tentang dasar-dasar beragama terutama mengenai pemahaman ilmu-ilmu aqidah, ibadah, dan akhlak.


II.2. Berkomunikasi menggunakan lisan/tulisan yang fasih

Yakni lisan dan tulisan yang sampai maksud dan tujuan lisan/tulisan tersebut tanpa ada bias dan keraguan makna Lisan atau tulisan dengan hikmah.


II.3. Beraksi dengan menggunakan perbuatan yang dipahami

Tidak bermanuver dengan perbuatan dan gerakan-gerakan tubuh yang membingungkan kawan sehingga terjadi misunderstanding yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya perselisihan, bid'ah, dan sunnah sayyi'ah. Namun perbuatan dan gerak tubuh yang menjadi mauidzah hasanah bagi manusia lainnya.


Taktik III: Cari solusi perselisihan


III.1. Selalu mengacu pada Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW
III.2. Musyawarah mufakat dengan hikmah dan kebijaksanaan, mengambil kebulatan tekad terbaik dalam semua perbedaan.
III.3. Melaksanakan hasil-hasil keputusan bersama dengan komitmen tinggi secara konsisten dengan bertawakkal hanya kepada Allah SWT agar tidak terjadi perselisihan lebih lanjut.


Mari wujudkan taqwa alam semesta dalam keragaman bangsa, suku, bahasa, dan warna kulit, dengan tindakan-tindakan yang benar dan bersahaja. Aamiin.

(Jika tidak, maka manusia tersebut akan terus bergelimang dalam rasa iri dengki dan perselisihan yang merupakan bagian dari kesesatan setan laknatullah. Naudzubillahi min dzalik.)






"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (Q.S. Al An’am: 6)
0 Komentar untuk "STI4 Antar Sistem Muslimin(mat)
2. Berbangsa-bangsa dan Bersuku-suku: Menjadi Bagian dari Taqwa Alam Semesta"

Back To Top